Hidup Sehat

Alasan Kenapa Harus Sunat dan Manfaat Sunat Yang Luar Biasa

kenapa sunat

Saat ini sudah banyak laki-laki yang merasakan manfaat sunat laser. Mereka menganggap sunat bukan sekedar metode yang sekedar anjuran agama tertentu ataupun sebagai kebudayaan yang berkembang di Indonesia, dibalik itu semua terdapat banyak benefit yang didapatkan oleh pria dari membuang kulup penis tersebut.

Menurut ahli sunat, laki-laki yang tidak di sunat sangat rentan terkena berbagai penyakit kelamin dan penyakit menular seksual. Dimana 80 % laki-laki yang menderita HIV (Human Immunodeficiency Virus) sehingga dapat menyebabkan penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Dimana virus ini dapat menyerang bagian sel darah putih bernama sel CD4. Virus tersebut akan merusak sistem metabolism seseorang sehingga mudah terserang berbagai penyakit.

Mengapa Sunat Diperlukan?

Bagi umat Muslim melakukan khitan pada pria merupakan kewajiban, dan dibeberapa daerah yang ada di Indonesia sunat juga sudah menjadi suatu kebudayaan yang sudah lama ada. Namun di Negara barat seperti halnya Amerika, sunat hingga kini masih menjadi perdebatan.

Bahkan American Academy Of Pediatrics (AAP) menyarankan para orang tua yang memiliki anak laki-laki untuk melakukan sunat. Bahkan mereka menyarankan para orang tua di Amerika untuk melakukan konsultasi dengan dokter untuk mengetahui manfaat sunat yang akan didapatkan.

Para ahli AAP percaya manfaat dari sunat lebih besar dibandingkan dengan resiko sunat tersebut. Terlebih bagi laki-laki yang mengalami penyakit phimosis. Phimosis adalah dimana kulup tidak dapat balik ke lokasi awal.

Manfaat Sunat

masalah sunatBanyak pria yang menganggap sunat akan sangat mempengaruhi gairah seksualnya. Sehingga mereka takut untuk melakukan sunat. Padahal sunat sangat bermanfaat agar pasangan bisa lebih puas dibandingkan dengan orang yang tidak melakukan sunat dan juga mengurangi dampak bahaya penyakit raja singa.

Sunat Membuat Penis Menjadi Lebih Bersih

Pria yang melakukan sunat akan membuat penisnya menjadi lebih bersih. Terkadang, setelah melakukan buang air kecil, masih ada kotoran yang tersisa dan menumpuk dibagian kulup. Apabila kulup dibuang, kotoran tersebut sangat mudah untuk dibersihkan. Kotoran tersebut dapat menyebabkan kulit penis menjadi iritasi.

Pria yang tidak melakukan sunat, bakteri dan kotoran sangat mudah menumpuk dibagian kulup. Sehingga ketika kulup penis dibuang, kotoran tidak akan menumpuk pada kulup sehingga kotoran pun mudah dibuang dan dibersihkan.

Sunat Menghindari Terkena Infeksi Saluran Kemih

Pada pria yang tidak melakukan proses khitan di Klinik Gracia Cideng Jakarta mereka akan mudah mengalami infeksi saluran kemih. Hal ini dikarenakan kulup penis dapat menjadi tempat kuman bersarang, jika kulup tidak dibuang. Terlebih pria yang melakukan sunat, akan terhindar menularkan ISK kepada pasangannya.

Terhindar Dari Penyakit HIV

Sudah disebutkan secara singkat diatas, bahwa sunat dapat mencegah tertularnya penyakit HIV. Menurut sebuah penelitian, orang yang di sunat dapat mengurangi resiko terkena HIV 50 %. Karena sunat dapat membuang bakteri yang menumpak pada penis pria. Tetapi tetap anda harus melakukan hubungan seks yang aman.

Terhindar dari Penyakit Phimosis

Phimosis adlah kondisi kulup pria yang tidak dapat ditarik ke posisi awal. Kondisi seperti ini sebenarnya sangat sering terjadi pada anak usia tiga tahun, karena penanganan terbaik dalam mengatasi phimosis adalah dengan melakukan sunat. Phimosis terjadi karena adanya peradangan dan timbulnya infeksi disekitar penis.

Sunat Mengurangi Resiko Terkena Kanker Penis

Pria yang melakukan sunat, tidak akan mudah terkena kanker penis. Meskipun penyebab kanker penis sangat jarang terjadi pada pria. Tapi dengan sunat anda mengurangi resiko terdampak kanker pada penis anda.

Tentunya cukup banyak manfaat sunat yang dapat anda peroleh. Meskipun banyak orang yang takut melakukan sunat karena resikonya cukup besar, namun hal tersebut tidak sebanding dengan manfaat yang diperoleh dari sunat itu sendiri. Meskipun saat ini anda sudah dewasa, namun belum di sunat, maka sunatlah untuk membersihkan kotoran yang terdapat pada kulup penis anda.

 

Segala Hal Tentang Penyakit Thalassemia

penyakit thalassemia

Pernah mendengar tentang kelainan darah yang bernama thalassemia? Thalassemia merupakan penyakit genetika, yang menyebabkan protein dalam sel darah merah tidak berfungsi dengan normal. Sel darah merah atau hemoglobin berfungsi untuk mengantarkan oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh, pentingnya aneka macam pepes ikan mas. Penderita thalassemia memiliki kadar hemoglobin yang berfungsi baik dalam jumlah yang sedikit, hal ini menyebabkan oksigen dalam tubuh penderita lebih rendah.

Gejala Thalassemia

Gejala thalassemia akan berbeda tergantung tingkat keparahan dan tipe thalassemia yang diderita. Untuk bekerja normal, hemoglobin butuh 2 protein alfa dan 2 protein beta. Jika terjadi kelainan pada protein alfa dinamakan thalassemia alfa, dan pada protein beta dinamakan thalassemia beta.

Contoh gejala yang mungkin terjadi pada penderita thalassemia yaitu seperti berat badan yang rendah, gejala anemia juga bisa terjadi seperti sesak napas dan juga mudah lelah, dan sakit kuning.

Gejala lain yang umum terjadi yaitu urine yang berwarna keruh, wajah pucat, kelainan bentuk tulang pada wajah, pertumbuhan tubuh yang terhambat, perut bengkak karena limpa atau hati yang membesar, dan sel darah merah yang berkurang (anemia).

Penyebab Thalassemia

Thalassemia disebabkan oleh mutasi DNA pada hemoglobin pembawa oksigen. Penyakit ini terjadi karena kelainan faktor genetika, dan belum diketahui pasti mengapa bisa terjadinya mutasi gen tersebut.

Diagnosis Thalassemia

Mendiagnosis thalassemia bisa dilakukan dengan tes darah. Namun harus dilakukan tes DNA untuk mengetahui tipe thalassemia.

Tes darah bisa dijalani untuk melakukan evaluasi pada hemoglobin, mengukur jumlah zat besi di darah, dan menganalisis DNA untuk memeriksa apakah ada gen hemoglobin yang bermutasi.

Pada bayi, dilakukan pemeriksaan antenatal atau saat hamil, untuk mengetahui informasi yang diperlukan, dan memeriksa apakah adanya penyakit genetika yang lain.

Pada pasangan yang ingin memiliki anak, namun memiliki kecenderungan akan mewariskan penyakit thalassemia, ada satu metode yang bisa digunakan. Metode ini bernama diagnosis genetika praimplantasi. Metode ini dilakukan dengan memindahkan telur dari ovarium wanita, kemudian membuahinya dengan sperma pria di laboratorium. Sebelumnya dilakukan pemeriksaan embrio yang sudah dibuahi untuk mengetahui apakah ada thalassemia, lalu embrio yang sehat yang akan ditanamkan pada rahim wanita.

Perawatan Thalassemia

Perawatan pada penderita ditentukan dari tipe dan juga tingkat keparahan dari penyakit thalassemia tersebut. Ada dua metode perawatan untuk thalassemia, yaitu transfusi darah tali pusat dan transplantasi pada sumsum tulang. Namun tidak semua penderita cocok dengan metode ini. Malah beberapa ada yang menyebabkan terjadi komplikasi.

Metode transfusi darah baik dilakukan untuk penderita thalassemia beta, namun bisa membuat terjadinya penumpukan zat besi di tubuh dan bisa menyebabkan gangguan kesehatan. Untuk menyingkirkan zat besi yang berlebihan ini bisa digunakan terapi khelasi.

Setelah itu dapat juga dilakukan tes pengukuran kadar zat besi dengan tes darah, biopsi organ hati ataupun MRI scan. Hal ini dilakukan untuk memonitor apakah terapi khelasi yang dijalani terbukti efektif.

Komplikasi Thalassemia

Komplikasi yang bisa terjadi pada thalassemia adalah seperti hepatitis, osteoporosis, tertundanya pubertas, dan juga gangguan ritme jantung. Namun resiko terjadinya komplikasi ini bisa dikurangi dengan menjalani pemeriksaan kesehatan dengan rutin. Penanganan yang tidak dijalankan dengan serius, akan membuat terjadinya kematian akibat komplikasi penyakit ini.

Itulah beberapa hal mengenai penyakit genetika thalassemia. Lakukan penanganan yang tepat bagi Anda yang menderita thalassemia ini, untuk menghindari terjadinya komplikasi yang membahayakan. Konsultasikan juga dengan dokter Anda mengenai hal-hal apa yang sebaiknya Anda lakukan untuk menangani penyakit thalassemia ini.

Epilepsi Bukan Penyakit Menular & Memberikan Pertolongan

gejala epilepsi

Penyakit epilepsi atau lebih dikenal dengan penyakit ayan. Dimana ketika penyakit kambuh, penderitanya akan mengalami kejang-kejang, serta menggeluarkan air liur atau mulut berbusa secara berlebihan. Banyak orang yang takut dengan penderita epilepsi.

Sejenak kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu penyakit epilepsi dan bagaimana penanganannya. Apa lagi, saat ini sebagian masyarakat menganggap bahwa epilepsi bisa menular dan merupakan penyakit kutukan.

Mengenal Epilepsi

Epilepsi terjadi akibat sel neuron yang terletak di dalam otak mengalami masalah. Dimana sel neuron ini berfungsi dan berkomunikasi dengan sel lainnya dengan mengantarkan aliran listrik. Pada penderita epilepsy, kejang-kejang yang terjadi pada tubuhnya disebabkan adanya kelebihan listrik yang mengalir. Sehingga menyebabkan perilaku dan kondisi tubuh yang tidak stabil.

Tapi tidak semua orang yang mengalami kejang dapat dikatakan epilepsi. Seseorang dapat dikatakan epilepsi ketika mereka mengalami kejang lebih dari satu kali. Kejang tersebut juga tidak terjadi pada seluruh tubuh, ada beberapa jenis kejang yang terjadi di sebagian tubuh.

Penyebab Epilepsi

Belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan seseorang mengalami epilepsi. Umumnya penderita epilepsi akan menunjukan tanda-tanda epilepsi. Namun untuk penyebab mengapa hal itu terjadi belum diketahui.

Adapun beberapa ahli mengatakan epilepsi terjadi akibat dari faktor genetika (keturunan). Epilepsi juga dapat terjadi saat dewasa. Epilepsi saat dewasa terjadi akibat dari tumor otak, gangguan pada otak, luka dalam di kepala, dan stroke membuat orang dewasa mengalami epilepsi.

Gejala Epilepsi

Saat seorang penderita epilepsi kambuh, biasanya matanya akan melotot atau menatap terus menerus, dan selalu berkedip, penderita pun akan mengalami pingsan dan pusing. Terkadang penderita pun akan mengalami bagian tubuh yang kaku. Setelah kaku, bagian tubuh tersebut akan sangat rileks hingga menyebabkan korban terjatuh.

Namun jika kejang yang terjadi tidak terlalu parah. Maka penderita hanya mengalami tubuh yang menyentak, kesemutan, pusing, dan kilatan cahaya tanpa hilang kesadaran. Penderita epilepsi pun kadang mengompol. Bahkan ada beberapa penderita yang hanya mengusap tangan, menelan, dan pandangan mereka menjadi kosong.

pengobatan epilepsiBenarkah Epilepsi Menular?

Betulkah? Banyak masyarakat yang beranggapan bahwa epilepsi merupakan penyakit yang menular. Padahal epilepsi bukanlah penyakit yang menular. Tidak ada bukti yang kuat bahwa penderita epilepsi dapat menularkan penyakitnya kepada orang lain. Bahkan saat kamu menolong penderitanya, dan terkena cairan tubuhnya. Penyakit tersebut tidak akan menular. Jadi anda tak perlu takut terhadap penderita epilepsi yang mengalami kejang-kejang didekat anda.

Pertolongan Pertama

Apabila anda menemukan seseorang yang mengalami epilepsi, maka anda harus memberikan pertolongan pertama kepada mereka. Pertolongan ini merupakan suatu cara untuk bisa membantu penderita agar tidak mengalami cedera yang begitu parah pada bagian tubuh yang lain.

  1. Saat penderita mengalami kejang, letakkan ia dalam posisi yang santai
  2. Jangan masukan benda keras ke dalam mulutnya, karena dapat membuat giginya rusak. Tapi masukan benda yang tidak begitu keras untuk menahan giginya yang mengigit lidah.
  3. Longgarkan bajunya
  4. Diamkan penderita mengalami kejang hingga ia pulih
  5. Jika kejang terjadi lebih dari 5 menit atau kejang terjadi sebanyak dua kali atau lebih dalam satu jam, maka penderita memerlukan bantuan medis.

Pengobatan

Belum ada pengobatan yang bisa menyembuhkan epilepsi secara permanen. Pengobatan yang dilakukan biasanya hanya untuk mengurangi kejang yang bisa terjadi pada penderita. Untuk mengurangi kejang, maka penderita harus dapat mengkonsumsi obat-obatan sesuai dengan anjuran dari dokter.

Selain dengan pemberian obat, apabila itu tidak berhasil. Maka penderita harus menjalani bedah kepala. Bedah dilakukan untuk mengambil bagian otak yang menyebabkan kejang. Tapi bedah otak sangat beresiko, dimana pasien mungkin akan mengalami hilangnya sesuatu yang telah tersimpan pada otaknya. Tentunya operasi dilakukan, jika epilepsi memang sudah cukup parah.

Hal-Hal Penting Tentang Buta Warna

buta warna

Buta warna merupakan salah satu masalah yang terjadi pada penglihatan. Ketika seseorang buta warna maka ia tidak akan bisa melihat warna-warna tertentu dengan jelas dan benar. Warna-warna yang biasanya kesulitan dilihat oleh penderita buta warna adalah warna merah, hijau, biru, dan campuran warna-warna tersebut.

Seseorang yang menderita buta warna biasanya akan memiliki persepsi yang berbeda-beda tentang warna. Buta warna bisa disadari sedari kecil, dengan tanda munculnya kesulitan dalam menyebutkan warna-warna dibandingkan orang lainnya.

Buta warna terdiri dari dua, yaitu buta warna total dan parsial. Kebanyakan orang mengalami buta warna parsial, jarang yang mengalami buta warna total. Buta warna sebagian biasanya membuat seseorang kesulitan membedakan warna merah-hijau atau biru-kuning.

Gejala Buta Warna

Jika orang normal bisa melihat ratusan warna, berbeda dengan penderita buta warna yang hanya bisa melihat beberapa gradasi warna saja. Sebagian penderita juga tidak bisa membedakan warna merah dan hijau, namun bisa melihat warna biru dan warna kuning. Beberapa orang malah tidak menyadari bahwa dirinya buta warna sebelum melakukan tes penglihatan warna.

Penyebab Buta Warna

Genetik

Kebanyakan penderita mengalami buta warna sejak lahir dikarenakan faktor genetik yang berikatan dengan kromosom X. Jika seorang ayah menderita buta warna, ia tidak akan mewarisi buta warna pada anaknya, kecuali pasangannya mempunyai gen buta warna. Hal ini terjadi karena wanita lebih berperan untuk menjadi pembawa gen (carrier) yang akan mewarisi buta warna pada anaknya.

Buta warna karena faktor genetik lebih sering terjadi pada pria dibanding wanita, walau kadang kondisi tersebut bisa melewati satu generasi. Anak perempuan dipastikan bisa menderita buta warna jika kedua orangtuanya merupakan pembawa gen buta warna.

Penyakit

Penyakit-penyakit tertentu juga bisa menyebabkan terjadinya buta warna. Seperti Parkinson, Alzheimer, glaukoma, leukemia, diabetes, pecandu alkohol kronis, degenerasi makula dan anemia sel sabit.

Usia.

Faktor usia bisa menyebabkan kemampuan seseorang dalam membedakan warna perlahan akan berkurang. Hal ini terbilang alami karena terjadi akibat proses penuaan.

Bahan Kimia

Buta warna juga bisa terjadi karena paparan bahan kimia beracun seperti jika Anda terpapar bahan kimia di tempat kerja Anda, misalnya bahan kimia karbon disulfida dan pupuk.

Efek Samping Pengobatan

Pengobatan tertentu juga bisa menyebabkan buta warna, seperti digoxin, phenytoin, klorokuin, dan sildenafil. Jika buta warna ini disebabkan oleh pengobatan, biasanya buta warna akan mereda dan penglihatan menjadi normal jika berhenti konsumsi obat tersebut.

Diagnosis Buta Warna

Buta warna bisa diketahui dengan menjalani tes-tes berikut ini:

Tes Ishihara

Tes ini adalah pemeriksaan yang paling umum dilakukan untuk memeriksa buta warna. Namun tes ini hanya dapat mendeteksi buta warna merah-hijau. Pada tes ishihara ini menggunakan lingkaran yang berisi banyak titik yang memiliki warna dan ukuran yang berbeda. Beberapa titik akan membuat bentuk angka tertentu.

Tes Warna Cambridge

Sama seperti tes ishihara, namun tes ini menggunakan layar komputer. Pemeriksaan akan dilakukan dengan cara pasien diminta untuk mengidentifikasi huruf C yang memiliki warna berbeda dengan warna yang ada di sekitarnya.

Tes Penyusunan

Pada tes ini, pasien diminta untuk menyusun suatu objek berdasar gradasi warna yang berbeda. Misalnya pasien akan diminta untuk menyusun balok mulai dari gradasi warna biru tua-biru-biru muda.

Anomaloscope

Tes ini menggunakan alat mirip mikroskop, dan pasien akan diminta melihat lingkaran yang dibagi dua warna, setengah kuning terang, setengahnya lagi warna merah dan hijau. Kemudian pasien akan diminta menekan tombol di alat tersebut sampai seluruh warna di lingkaran berubah menjadi sama. Namun tes ini juga hanya bisa mendeteksi buta warna merah-hijau saja.

Tes Lentera Farnsworth

Tes ini sering digunakan militer Amerika Serikat untuk mendeteksi apakah calon tentaranya mengalami buta warna ringan ataukah berat.

Tes Farnsworth-Munsell

Tes ini menggunakan banyak lingkaran dengan gradasi warna yang sama seperti tes penyusunan. Tes ini digunakan untuk memeriksa dapatkah pasien membedakan perubahan warna yang sangat tipis perbedaannya.

Lakukan tes-tes buta warna tersebut untuk mendeteksi apakah Anda memiliki gejala buta warna.