Day: April 14, 2017

Seputar Penyakit Infeksi Hepatitis C

penyakit hepatitis c

Hepatitis C merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang hati dan dapat memicu inflamasi dan infeksi hati. Pada tahap awal secara umum penyakit ni tidak menunjukkan gejala karena penderita tidak menyadari sudah terserang dan akhirnya sudah terkena kerusakan hati pada tahun-tahun berikutnya.

Indikasi penyakit Hepatitis C mirip dengan penyakit lainnya, seperti pegal-pegal, tidak nafsu makan serta mudah lelah.

Hepatitis C Akut dan Kronis

Virus hepatitis C bisa mengakibatkan terjadinya infeksi akut dan kronis. Dikatakan sebagai Hepatitis C akut apabila telah terjadi infeksi pada 6 bulan pertama. Biasanya infeksi ini tanpa ditandai dengan gejala dan jarang mematikan. Kurang lebih 15-45 persen penderita berhasil sembuh tanpa penanganan khusus.

Sisanya sekitar 55% sampai 85% akan menyimpan virus dalam waktu yang cukup lama dan kemudian dapat berkembang menjadi penyakit Hepatitis C kronis. Dalam jangka waktu 20 tahun. sekitar 15% sampai 30% dari penderita Hepatitis C kronis beresiko terserang Sirosis hati dan dapat berakibat fatal.

Data WHO menunjukkan bahwa penderita Hepatitis C kronis di seluruh dunia mencapai 130-150 juta dan terdapat 700 ribu yang mengalami penyakit hati akibat Hepatitis C. Di Indonesia, tercatat 28 juta penderita Hepatitis C dan B, setengahnya berkembang menjadi Hepatitis C kronis.

Cara Penularan Hepatitis C

Virus hepatitis C hidup dan berkembang di dalam darah. Oleh karena itu penularan dapat terjadi apabila mengalami kontak langsung dengan darah penderita.

Proses penularan yang paling umum adalah akibat penggunaan bersama jarum suntik. Sangat tidak diperbolehkan berbagi jarum suntik seperti yang dilakukan oleh para pengguna obat-obat terlarang. Selain penggunaan jarum suntik, penggunaan barang pribadi secara bersama juga tidak disarankan seperti sikat gigi, gunting kuku maupun berhubungan seksual dengan orang yang berisiko terserang Hepatitis C.

Yang perlu diketahui adalah virus Hepatitis C tidak menular melalui makanan, minumam, air susu ibu, bersentuhan, bersalaman maupun berpelukan.

Diagnosis dan Pengobatan Hepatitis C

Agar tidak berkembang menjadi sérosis hati, lebih baik dilakukan pengobatan secara dini. Orang yang berisiko terinfeksi virus Hepatitis C dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan tes darah secara rutin untuk melakukan diagnosa penyakit Hepatitis C.

Penderita Hepatitis C belum tentu membutuhkan pengobatan karena tubuh memiliki sistem kekebalan yang mampu memberantas infeksi dan belum tentu penderita Hepatitis C akan mengalami kerusakan hati.

Hepatitis C akut dapat sembuh dengan sendirinya tanpa dilakukan penanganan khusus. Akan tetapi jika level penyakit sudah masuk ke dalam Hepatitis C kronis harus dilakukan pengobatan dan penangan khusus menggunakan jenis obat-obatan anti virus. Obat anti virus diberikan untuk menghambat dan menghentikan perkembangan virus dan mencegah kerusakan pada hati.

Orang yang sudah pernah terserang Hepatitis C dan sudah sembuh belum berarti tubuh Anda sudah memiliki kekebalan tubuh sepenuhnya terhadap virus Hepatitis C. Penderita yang sudah pernah sembuh dari penyakit ini disarankan untuk berhati-hati dan selalu menjaga kesehatan karena berisiko terinfeksi kembali penyakit yang sama.

Langkah Pencegahan Hepatitis C

Belum ada vaksinasi yang dapat mencegah penyakit Hepatitis C. Akan tetapi ada banyak yang yang bisa dilakukan untuk mencegah agar tidak tertular. Yang paling penting adalah tidak menggunakan secara bersamaan peralatan seperti jarum suntik, barang-barang pribadi yang sudah atau terkontaminasi dengan darah.

Walaupun jarang ditemukan penularan melalui hubungan seksual, disarankan untuk menggunakan kondom untuk mencegah dari Hepatitis, terutama yang berhubungan dengan darah seperti darah menstruasi.

Hal-Hal Penting Tentang Buta Warna

buta warna

Buta warna merupakan salah satu masalah yang terjadi pada penglihatan. Ketika seseorang buta warna maka ia tidak akan bisa melihat warna-warna tertentu dengan jelas dan benar. Warna-warna yang biasanya kesulitan dilihat oleh penderita buta warna adalah warna merah, hijau, biru, dan campuran warna-warna tersebut.

Seseorang yang menderita buta warna biasanya akan memiliki persepsi yang berbeda-beda tentang warna. Buta warna bisa disadari sedari kecil, dengan tanda munculnya kesulitan dalam menyebutkan warna-warna dibandingkan orang lainnya.

Buta warna terdiri dari dua, yaitu buta warna total dan parsial. Kebanyakan orang mengalami buta warna parsial, jarang yang mengalami buta warna total. Buta warna sebagian biasanya membuat seseorang kesulitan membedakan warna merah-hijau atau biru-kuning.

Gejala Buta Warna

Jika orang normal bisa melihat ratusan warna, berbeda dengan penderita buta warna yang hanya bisa melihat beberapa gradasi warna saja. Sebagian penderita juga tidak bisa membedakan warna merah dan hijau, namun bisa melihat warna biru dan warna kuning. Beberapa orang malah tidak menyadari bahwa dirinya buta warna sebelum melakukan tes penglihatan warna.

Penyebab Buta Warna

Genetik

Kebanyakan penderita mengalami buta warna sejak lahir dikarenakan faktor genetik yang berikatan dengan kromosom X. Jika seorang ayah menderita buta warna, ia tidak akan mewarisi buta warna pada anaknya, kecuali pasangannya mempunyai gen buta warna. Hal ini terjadi karena wanita lebih berperan untuk menjadi pembawa gen (carrier) yang akan mewarisi buta warna pada anaknya.

Buta warna karena faktor genetik lebih sering terjadi pada pria dibanding wanita, walau kadang kondisi tersebut bisa melewati satu generasi. Anak perempuan dipastikan bisa menderita buta warna jika kedua orangtuanya merupakan pembawa gen buta warna.

Penyakit

Penyakit-penyakit tertentu juga bisa menyebabkan terjadinya buta warna. Seperti Parkinson, Alzheimer, glaukoma, leukemia, diabetes, pecandu alkohol kronis, degenerasi makula dan anemia sel sabit.

Usia.

Faktor usia bisa menyebabkan kemampuan seseorang dalam membedakan warna perlahan akan berkurang. Hal ini terbilang alami karena terjadi akibat proses penuaan.

Bahan Kimia

Buta warna juga bisa terjadi karena paparan bahan kimia beracun seperti jika Anda terpapar bahan kimia di tempat kerja Anda, misalnya bahan kimia karbon disulfida dan pupuk.

Efek Samping Pengobatan

Pengobatan tertentu juga bisa menyebabkan buta warna, seperti digoxin, phenytoin, klorokuin, dan sildenafil. Jika buta warna ini disebabkan oleh pengobatan, biasanya buta warna akan mereda dan penglihatan menjadi normal jika berhenti konsumsi obat tersebut.

Diagnosis Buta Warna

Buta warna bisa diketahui dengan menjalani tes-tes berikut ini:

Tes Ishihara

Tes ini adalah pemeriksaan yang paling umum dilakukan untuk memeriksa buta warna. Namun tes ini hanya dapat mendeteksi buta warna merah-hijau. Pada tes ishihara ini menggunakan lingkaran yang berisi banyak titik yang memiliki warna dan ukuran yang berbeda. Beberapa titik akan membuat bentuk angka tertentu.

Tes Warna Cambridge

Sama seperti tes ishihara, namun tes ini menggunakan layar komputer. Pemeriksaan akan dilakukan dengan cara pasien diminta untuk mengidentifikasi huruf C yang memiliki warna berbeda dengan warna yang ada di sekitarnya.

Tes Penyusunan

Pada tes ini, pasien diminta untuk menyusun suatu objek berdasar gradasi warna yang berbeda. Misalnya pasien akan diminta untuk menyusun balok mulai dari gradasi warna biru tua-biru-biru muda.

Anomaloscope

Tes ini menggunakan alat mirip mikroskop, dan pasien akan diminta melihat lingkaran yang dibagi dua warna, setengah kuning terang, setengahnya lagi warna merah dan hijau. Kemudian pasien akan diminta menekan tombol di alat tersebut sampai seluruh warna di lingkaran berubah menjadi sama. Namun tes ini juga hanya bisa mendeteksi buta warna merah-hijau saja.

Tes Lentera Farnsworth

Tes ini sering digunakan militer Amerika Serikat untuk mendeteksi apakah calon tentaranya mengalami buta warna ringan ataukah berat.

Tes Farnsworth-Munsell

Tes ini menggunakan banyak lingkaran dengan gradasi warna yang sama seperti tes penyusunan. Tes ini digunakan untuk memeriksa dapatkah pasien membedakan perubahan warna yang sangat tipis perbedaannya.

Lakukan tes-tes buta warna tersebut untuk mendeteksi apakah Anda memiliki gejala buta warna.