Segala Hal Tentang Penyakit Thalassemia

penyakit thalassemia

Pernah mendengar tentang kelainan darah yang bernama thalassemia? Thalassemia merupakan penyakit genetika, yang menyebabkan protein dalam sel darah merah tidak berfungsi dengan normal. Sel darah merah atau hemoglobin berfungsi untuk mengantarkan oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Penderita thalassemia memiliki kadar hemoglobin yang berfungsi baik dalam jumlah yang sedikit, hal ini menyebabkan oksigen dalam tubuh penderita lebih rendah.

Gejala Thalassemia

Gejala thalassemia akan berbeda tergantung tingkat keparahan dan tipe thalassemia yang diderita. Untuk bekerja normal, hemoglobin butuh 2 protein alfa dan 2 protein beta. Jika terjadi kelainan pada protein alfa dinamakan thalassemia alfa, dan pada protein beta dinamakan thalassemia beta.

Contoh gejala yang mungkin terjadi pada penderita thalassemia yaitu seperti berat badan yang rendah, gejala anemia juga bisa terjadi seperti sesak napas dan juga mudah lelah, dan sakit kuning.

Gejala lain yang umum terjadi yaitu urine yang berwarna keruh, wajah pucat, kelainan bentuk tulang pada wajah, pertumbuhan tubuh yang terhambat, perut bengkak karena limpa atau hati yang membesar, dan sel darah merah yang berkurang (anemia).

Penyebab Thalassemia

Thalassemia disebabkan oleh mutasi DNA pada hemoglobin pembawa oksigen. Penyakit ini terjadi karena kelainan faktor genetika, dan belum diketahui pasti mengapa bisa terjadinya mutasi gen tersebut.

Diagnosis Thalassemia

Mendiagnosis thalassemia bisa dilakukan dengan tes darah. Namun harus dilakukan tes DNA untuk mengetahui tipe thalassemia.

Tes darah bisa dijalani untuk melakukan evaluasi pada hemoglobin, mengukur jumlah zat besi di darah, dan menganalisis DNA untuk memeriksa apakah ada gen hemoglobin yang bermutasi.

Pada bayi, dilakukan pemeriksaan antenatal atau saat hamil, untuk mengetahui informasi yang diperlukan, dan memeriksa apakah adanya penyakit genetika yang lain.

Pada pasangan yang ingin memiliki anak, namun memiliki kecenderungan akan mewariskan penyakit thalassemia, ada satu metode yang bisa digunakan. Metode ini bernama diagnosis genetika praimplantasi. Metode ini dilakukan dengan memindahkan telur dari ovarium wanita, kemudian membuahinya dengan sperma pria di laboratorium. Sebelumnya dilakukan pemeriksaan embrio yang sudah dibuahi untuk mengetahui apakah ada thalassemia, lalu embrio yang sehat yang akan ditanamkan pada rahim wanita.

Perawatan Thalassemia

Perawatan pada penderita ditentukan dari tipe dan juga tingkat keparahan dari penyakit thalassemia tersebut. Ada dua metode perawatan untuk thalassemia, yaitu transfusi darah tali pusat dan transplantasi pada sumsum tulang. Namun tidak semua penderita cocok dengan metode ini. Malah beberapa ada yang menyebabkan terjadi komplikasi.

Metode transfusi darah baik dilakukan untuk penderita thalassemia beta, namun bisa membuat terjadinya penumpukan zat besi di tubuh dan bisa menyebabkan gangguan kesehatan. Untuk menyingkirkan zat besi yang berlebihan ini bisa digunakan terapi khelasi.

Setelah itu dapat juga dilakukan tes pengukuran kadar zat besi dengan tes darah, biopsi organ hati ataupun MRI scan. Hal ini dilakukan untuk memonitor apakah terapi khelasi yang dijalani terbukti efektif.

Komplikasi Thalassemia

Komplikasi yang bisa terjadi pada thalassemia adalah seperti hepatitis, osteoporosis, tertundanya pubertas, dan juga gangguan ritme jantung. Namun resiko terjadinya komplikasi ini bisa dikurangi dengan menjalani pemeriksaan kesehatan dengan rutin. Penanganan yang tidak dijalankan dengan serius, akan membuat terjadinya kematian akibat komplikasi penyakit ini.

Itulah beberapa hal mengenai penyakit genetika thalassemia. Lakukan penanganan yang tepat bagi Anda yang menderita thalassemia ini, untuk menghindari terjadinya komplikasi yang membahayakan. Konsultasikan juga dengan dokter Anda mengenai hal-hal apa yang sebaiknya Anda lakukan untuk menangani penyakit thalassemia ini.

Epilepsi Bukan Penyakit Menular & Memberikan Pertolongan

gejala epilepsi

Penyakit epilepsi atau lebih dikenal dengan penyakit ayan. Dimana ketika penyakit kambuh, penderitanya akan mengalami kejang-kejang, serta menggeluarkan air liur atau mulut berbusa secara berlebihan. Banyak orang yang takut dengan penderita epilepsi.

Sejenak kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu penyakit epilepsi dan bagaimana penanganannya. Apa lagi, saat ini sebagian masyarakat menganggap bahwa epilepsi bisa menular dan merupakan penyakit kutukan.

Mengenal Epilepsi

Epilepsi terjadi akibat sel neuron yang terletak di dalam otak mengalami masalah. Dimana sel neuron ini berfungsi dan berkomunikasi dengan sel lainnya dengan mengantarkan aliran listrik. Pada penderita epilepsy, kejang-kejang yang terjadi pada tubuhnya disebabkan adanya kelebihan listrik yang mengalir. Sehingga menyebabkan perilaku dan kondisi tubuh yang tidak stabil.

Tapi tidak semua orang yang mengalami kejang dapat dikatakan epilepsi. Seseorang dapat dikatakan epilepsi ketika mereka mengalami kejang lebih dari satu kali. Kejang tersebut juga tidak terjadi pada seluruh tubuh, ada beberapa jenis kejang yang terjadi di sebagian tubuh.

Penyebab Epilepsi

Belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan seseorang mengalami epilepsi. Umumnya penderita epilepsi akan menunjukan tanda-tanda epilepsi. Namun untuk penyebab mengapa hal itu terjadi belum diketahui.

Adapun beberapa ahli mengatakan epilepsi terjadi akibat dari faktor genetika (keturunan). Epilepsi juga dapat terjadi saat dewasa. Epilepsi saat dewasa terjadi akibat dari tumor otak, gangguan pada otak, luka dalam di kepala, dan stroke membuat orang dewasa mengalami epilepsi.

Gejala Epilepsi

Saat seorang penderita epilepsi kambuh, biasanya matanya akan melotot atau menatap terus menerus, dan selalu berkedip, penderita pun akan mengalami pingsan dan pusing. Terkadang penderita pun akan mengalami bagian tubuh yang kaku. Setelah kaku, bagian tubuh tersebut akan sangat rileks hingga menyebabkan korban terjatuh.

Namun jika kejang yang terjadi tidak terlalu parah. Maka penderita hanya mengalami tubuh yang menyentak, kesemutan, pusing, dan kilatan cahaya tanpa hilang kesadaran. Penderita epilepsi pun kadang mengompol. Bahkan ada beberapa penderita yang hanya mengusap tangan, menelan, dan pandangan mereka menjadi kosong.

pengobatan epilepsiBenarkah Epilepsi Menular?

Betulkah? Banyak masyarakat yang beranggapan bahwa epilepsi merupakan penyakit yang menular. Padahal epilepsi bukanlah penyakit yang menular. Tidak ada bukti yang kuat bahwa penderita epilepsi dapat menularkan penyakitnya kepada orang lain. Bahkan saat kamu menolong penderitanya, dan terkena cairan tubuhnya. Penyakit tersebut tidak akan menular. Jadi anda tak perlu takut terhadap penderita epilepsi yang mengalami kejang-kejang didekat anda.

Pertolongan Pertama

Apabila anda menemukan seseorang yang mengalami epilepsi, maka anda harus memberikan pertolongan pertama kepada mereka. Pertolongan ini merupakan suatu cara untuk bisa membantu penderita agar tidak mengalami cedera yang begitu parah pada bagian tubuh yang lain.

  1. Saat penderita mengalami kejang, letakkan ia dalam posisi yang santai
  2. Jangan masukan benda keras ke dalam mulutnya, karena dapat membuat giginya rusak. Tapi masukan benda yang tidak begitu keras untuk menahan giginya yang mengigit lidah.
  3. Longgarkan bajunya
  4. Diamkan penderita mengalami kejang hingga ia pulih
  5. Jika kejang terjadi lebih dari 5 menit atau kejang terjadi sebanyak dua kali atau lebih dalam satu jam, maka penderita memerlukan bantuan medis.

Pengobatan

Belum ada pengobatan yang bisa menyembuhkan epilepsi secara permanen. Pengobatan yang dilakukan biasanya hanya untuk mengurangi kejang yang bisa terjadi pada penderita. Untuk mengurangi kejang, maka penderita harus dapat mengkonsumsi obat-obatan sesuai dengan anjuran dari dokter.

Selain dengan pemberian obat, apabila itu tidak berhasil. Maka penderita harus menjalani bedah kepala. Bedah dilakukan untuk mengambil bagian otak yang menyebabkan kejang. Tapi bedah otak sangat beresiko, dimana pasien mungkin akan mengalami hilangnya sesuatu yang telah tersimpan pada otaknya. Tentunya operasi dilakukan, jika epilepsi memang sudah cukup parah.

Kenali Penyakit Candidiasis Pada Wanita Secara Mendalam

penyakit candidiasis

Dalam mempersiapkan masa depan yang lebih cerah dan menyenangkan, diperlukan langkah awal yang baik untuk melakukannya. Hal paling pertama untuk melakukannya adalah dengan menjaga kesehatan organ reproduksi.

Candidiasis atau infeksi jamur pada vagina merupakan salah satu dari penyakit yang menyerang organ reproduksi wanita. Penyakit candidiasis disebabkan oleh jamur Candida. Jamur Candida terdiri dari 20 jenis, namun yang paling sering menyebabkan infeksi pada bagian vagina adalah Candida albicans.

Candidiasis dapat muncul pada berbagai bagian tubuh manusia. Adapun bagian tubuh yang paling sering diserang dan mengalami infeksi adalah bagian mulut dan sekitar alat kelamin. Selain bagian-bagian tersebut, ternyata ada beberapa bagian tubuh lain yang dapat terkena infeksi jamur ini seperti kuku, esophagus, daerah sekitar anus, serta saluran pencernaan.

Gejala-gejala ang biasanya timbul akibat penyakit ini berbeda-beda antara satu dengan lainnya, tergantung lokasi infeksi berada.

Candidiasis Mulut (Oral Trush)

Gejala yang biasanya timbul seperti bintik-bintik berwarna putih pada bagian dalam mulut dan lidah, kulit yang terdapat pada sudut bagian mulut mengalami pecah-pecah, serta rongga mulut mengalami kemerahan. Sulit menelan dan sakit tenggorokan juga merupakan gejala yang mungkin akan dialami oleh penderita.

Infeksi Candida pada sekitar kelamin

Gejala yang biasanya timbul seperti merasakan gatal yang luar biasa pada daerah seputar vagina, bagian pada sekeliling vagina mengalami kemerahan dan perih, terjadinya keputihan yang menggumpal seperti keju.

Jika terjadi infeksi jamur vagina, alangkah baiknya segera Anda obati, sebab jika tidak ditangani serta dibiarkan terlalu lama, akan berpotensi menyebabkan jamur masuk melalui aliran darah sehingga memicu terjadinya infeksi pada darah.

Penyebab dan Faktor Resiko

Jamur Candida sebenarnya telah ada pada permukaan kulit manusia, akan tetapi jika jamur ini berkembang biak secara berlebihan, khususnya pada bagian tubuh yang lembap, akan memicu terjadinya infeksi. Faktor-faktor yang meningkatkan resiko terinfeksi jamur antara lain yaitu:Usia

  • Sistem kekebalan tubuh yang lemah
  • Penyakit kronis
  • Obat-obatan tertentu

Pengobatan dan Pencegahan

Pengobatan yang dilakukan pada setiap penderita Candidiasis tentunya berbeda antara satu dengan lainnya, tergantung dari lokasi terjadinya infeksi, tingkat keparahan, serta kondisi kesehatan pasien. Ada beberapa jenis obat-obatan anti jamur yang dapat Anda beli di apotek-apotek terdekat di rumah Anda untuk mengobati infeksi yang telah Anda alami. Namun sebelumnya, Anda harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter untuk menentukan obat anti jamur seperti apa yang harus Anda beli agar sesuai dengan penyakit yang Anda derita.

Berikut ini adalah jenis-jenis obat yang dapat Anda beli berdasarkan jenis candidiasis yang sedang dialami.

Candidiasis mulut

Untuk mengobatinya Anda dapat membeli anti jamur yang berbentuk gel atau obat kumur. Pada umumnya lama pengobatan penyakit ini berkisar antara satu hingga dua minggu. Adapun dokter biasanya akan memberikan Anda obat anti jamur berbentuk tablet atau kapsul.

Infeksi candidiasis

Untuk mengobati infeksi candidiasis pada sekitar wilayah kelamin, Anda dapat membeli obat anti jamur yang berbentuk krim, tablet atau supositoria.

Ruam popok

Ruam yang terjadi dapat ditangani dengan memberikan anti jamur dalam bentuk salep, krim serta bedak

Selain menggunakan obat-obatan untuk mengobati Candidiasis, Anda juga dapat mempercepat penyembuhan infeksi candidiasis pada bagian mulut seperti:

  • Menjaga kebersihan daerah mulut seperti rajin menggosok gigi, merawat gigi secara teratur ke dokter, serta membersihkan sela-sela gigi Anda dengan benang gigi (dental floss) secara teratur
  • Berhenti merokok

Sedangkan untuk mempercepat proses penyembuhan infeksi Candidiasis pada daerah seputar kelamin yaitu dengan cara:

  1. Menggunakan pakaian dalam yang berbahan katun
  2. Tidak menggunakan pakaian dalam yang terlalu ketat
  3. Menghindari penggunaan sabun yang mengandung pewangi pada vagina
  4. Memastikan selalu bahwa organ intim kering, terutama setelah mandi atau setelah dibersihkan.

Demikianlah informasi mengenai penyakit Candidiasis yang merupakan penyakit karena tidak bisa merawat dan menjaga organ reproduksinya. Semoga artikel ini bemanfaat.

Jangan Takut, Kenali Penyakit Diabetes dari Sekarang

Anda pasti sudah sangat sering mendengar mengenai penyakit diabetes, atau mungkin Anda belum mengetahui apa itu penyakit diabetes?

Penyakit diabetes merupakan penyakit yang bersifat jangka panjang dan kronis. Pada umumnya penyakit ini ditandai dengan kadar gula darah atau glukosa yang jauh dari angka normal. Perlu diketahui bahwa glukosa merupakan zat yang sangat penting bagi kesehatan kita, sebab glukosa merupakan sumber energi utama untuk otak dan sel-sel yang membentuk otot-otot serta jaringan yang terdapat pada tubuh kita.

Menurut penelitian, penyakit diabetes terbagi menjadi dua jenis, yaitu diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2.

Indonesia merupakan 10 negara terbesar penderita diabetes, dan diperkirakan pada tahun  2013 jumlah penderita diabetes di Indonesia akan mencapai sekitar 8,5 juta orang dengan rentang usia yang bervariasi. Berdasarkan data dari Federasi Diabetes Internasion usia seseorang yang beresiko terkena penyakit diabetes adalah mulai dari 20 hingga 79 tahun. Akan tetapi hanya sekitar 50% saja yang menyadari bahwa mereka terkena diabetes.

Lalu apa saja gejala diabetes?

Penting bagi Anda untuk mengetahui sejak dini gejala diabetes. Baik bagi Anda yang memang beresiko tinggi terkena diabetes, serta bagi Anda yang masih sehat dan tidak mempunyai riwayat atau potensi untuk terkena penyakit ini.

Penyakit diabetes tipe 1 mempunyai waktu perkembangan sangat cepat dalam menginfeksinya, dalam beberapa minggu, bahkan dalam beberapa hari saja Anda dapat langsung terkena penyakit ini. Sedangkan diabetes tipe 2 kebanyakan penderita tidak menyadari bahwa diri mereka telah mengidap penyakit diabetes bahkan telah berjalan selama bertahun-tahun. Terdapat beberapa gejala diabetes yang mungkin dapat menjadi acuan dan informasi bagi Anda:

  • Seringnya merasakan haus
  • Sering buang air kecil, khususnya di malam hari
  • Timbulnya rasa lapar yang ekstrem
  • Turunnya berat badan
  • Massa otot berkurang
  • Terdapat keton pada air seni
  • Kelelahan
  • Pandangan yang kabur
  • Luka yang lama masa penyembuhannya
  • Seringnya mengalami infeksi pada gusi, kulit, vagina atau saluran kemih

Jika Anda mengalami hal-hal tersebut di atas, maka besar kemungkinan Anda terkena penyakit diabetes. Untuk itu segera periksakan diri Anda ke dokter langganan Anda, sebab pendeteksian sedini mungkin dapat mencegah bertambah parahnya kondisi Anda.

penyakit diabetes

Pengaruh Hormon Insulin dan Diabetes

Glukosa sangat dibutuhkan oleh seluruh sel dalam tubuh manusia agar dapat bekerja dengan baik dan normal. untuk mengendalikan kadar zat gula dalam darah terdapat suatu hormon yang disebut hormon insulin. Hormon insulin merupakan hormon yang diproduksi oleh pankreas.

Akan tetapi pada penderita penyakit diabetes, organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan pada tubuh. Sebab tanpa insulin, sel-sel yang terdapat pada tubuh tidak mampu menyerap serta mengolah glukosa menjadi energi.

Apakah pengaruhnya diabetes pada ibu hamil?

Para ibu hamil juga ternyata dapat terkena penyakit diabetes, hal ini akibat kadar glukosa dalam darah yang sangat tinggi selama terjadinya masa kehamilan, hal ini menyebabkan tubuh ibu hamil tidak dapat memproduksi hormon insulin yang cukup untuk menyerapnya. Diabetes seperti ini lebih dikenal dengan sebutan diabetes kehamilan yang dapat terjadi pada sekitar 15 hingga 18 orang wanita dari 100 wanita yang mengalami kehamilan.

Bagi para penderita diabetes tipe 1, hal ini memiliki resiko yang tinggi, sebab dapat memberikan dampak kepada ibu dan janin. Untuk itu sangat penting bagi para penderita diabetes yang sedang hamil untuk selalu menjaga keseimbangan kadar gula darahnya agar tidak terlalu berlebihan.

Oleh sebab itu bagi ibu hamil disarankan untuk selalu memantau kadar gula darahnya khususnya pada trimester kedua yang dimulai pada minggu ke-14 sampai 26. Hal ini terjadi karena pada masa-masa seperti itulah diabetes kehamilan berkembang lalu hilang setelah melahirkan. Namun bagi penderita diabetes tipe-2 juga mengalami resiko yang sama bahkan pada wanita yang pernah mengalami diabetes kehamilan, resikonya tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan populasi pada umumnya.

Seputar Penyakit Infeksi Hepatitis C

penyakit hepatitis c

Hepatitis C merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang hati dan dapat memicu inflamasi dan infeksi hati. Pada tahap awal secara umum penyakit ni tidak menunjukkan gejala karena penderita tidak menyadari sudah terserang dan akhirnya sudah terkena kerusakan hati pada tahun-tahun berikutnya.

Indikasi penyakit Hepatitis C mirip dengan penyakit lainnya, seperti pegal-pegal, tidak nafsu makan serta mudah lelah.

Hepatitis C Akut dan Kronis

Virus hepatitis C bisa mengakibatkan terjadinya infeksi akut dan kronis. Dikatakan sebagai Hepatitis C akut apabila telah terjadi infeksi pada 6 bulan pertama. Biasanya infeksi ini tanpa ditandai dengan gejala dan jarang mematikan. Kurang lebih 15-45 persen penderita berhasil sembuh tanpa penanganan khusus.

Sisanya sekitar 55% sampai 85% akan menyimpan virus dalam waktu yang cukup lama dan kemudian dapat berkembang menjadi penyakit Hepatitis C kronis. Dalam jangka waktu 20 tahun. sekitar 15% sampai 30% dari penderita Hepatitis C kronis beresiko terserang Sirosis hati dan dapat berakibat fatal.

Data WHO menunjukkan bahwa penderita Hepatitis C kronis di seluruh dunia mencapai 130-150 juta dan terdapat 700 ribu yang mengalami penyakit hati akibat Hepatitis C. Di Indonesia, tercatat 28 juta penderita Hepatitis C dan B, setengahnya berkembang menjadi Hepatitis C kronis.

Cara Penularan Hepatitis C

Virus hepatitis C hidup dan berkembang di dalam darah. Oleh karena itu penularan dapat terjadi apabila mengalami kontak langsung dengan darah penderita.

Proses penularan yang paling umum adalah akibat penggunaan bersama jarum suntik. Sangat tidak diperbolehkan berbagi jarum suntik seperti yang dilakukan oleh para pengguna obat-obat terlarang. Selain penggunaan jarum suntik, penggunaan barang pribadi secara bersama juga tidak disarankan seperti sikat gigi, gunting kuku maupun berhubungan seksual dengan orang yang berisiko terserang Hepatitis C.

Yang perlu diketahui adalah virus Hepatitis C tidak menular melalui makanan, minumam, air susu ibu, bersentuhan, bersalaman maupun berpelukan.

Diagnosis dan Pengobatan Hepatitis C

Agar tidak berkembang menjadi sérosis hati, lebih baik dilakukan pengobatan secara dini. Orang yang berisiko terinfeksi virus Hepatitis C dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan tes darah secara rutin untuk melakukan diagnosa penyakit Hepatitis C.

Penderita Hepatitis C belum tentu membutuhkan pengobatan karena tubuh memiliki sistem kekebalan yang mampu memberantas infeksi dan belum tentu penderita Hepatitis C akan mengalami kerusakan hati.

Hepatitis C akut dapat sembuh dengan sendirinya tanpa dilakukan penanganan khusus. Akan tetapi jika level penyakit sudah masuk ke dalam Hepatitis C kronis harus dilakukan pengobatan dan penangan khusus menggunakan jenis obat-obatan anti virus. Obat anti virus diberikan untuk menghambat dan menghentikan perkembangan virus dan mencegah kerusakan pada hati.

Orang yang sudah pernah terserang Hepatitis C dan sudah sembuh belum berarti tubuh Anda sudah memiliki kekebalan tubuh sepenuhnya terhadap virus Hepatitis C. Penderita yang sudah pernah sembuh dari penyakit ini disarankan untuk berhati-hati dan selalu menjaga kesehatan karena berisiko terinfeksi kembali penyakit yang sama.

Langkah Pencegahan Hepatitis C

Belum ada vaksinasi yang dapat mencegah penyakit Hepatitis C. Akan tetapi ada banyak yang yang bisa dilakukan untuk mencegah agar tidak tertular. Yang paling penting adalah tidak menggunakan secara bersamaan peralatan seperti jarum suntik, barang-barang pribadi yang sudah atau terkontaminasi dengan darah.

Walaupun jarang ditemukan penularan melalui hubungan seksual, disarankan untuk menggunakan kondom untuk mencegah dari Hepatitis, terutama yang berhubungan dengan darah seperti darah menstruasi.

Hal-Hal Penting Tentang Buta Warna

buta warna

Buta warna merupakan salah satu masalah yang terjadi pada penglihatan. Ketika seseorang buta warna maka ia tidak akan bisa melihat warna-warna tertentu dengan jelas dan benar. Warna-warna yang biasanya kesulitan dilihat oleh penderita buta warna adalah warna merah, hijau, biru, dan campuran warna-warna tersebut.

Seseorang yang menderita buta warna biasanya akan memiliki persepsi yang berbeda-beda tentang warna. Buta warna bisa disadari sedari kecil, dengan tanda munculnya kesulitan dalam menyebutkan warna-warna dibandingkan orang lainnya.

Buta warna terdiri dari dua, yaitu buta warna total dan parsial. Kebanyakan orang mengalami buta warna parsial, jarang yang mengalami buta warna total. Buta warna sebagian biasanya membuat seseorang kesulitan membedakan warna merah-hijau atau biru-kuning.

Gejala Buta Warna

Jika orang normal bisa melihat ratusan warna, berbeda dengan penderita buta warna yang hanya bisa melihat beberapa gradasi warna saja. Sebagian penderita juga tidak bisa membedakan warna merah dan hijau, namun bisa melihat warna biru dan warna kuning. Beberapa orang malah tidak menyadari bahwa dirinya buta warna sebelum melakukan tes penglihatan warna.

Penyebab Buta Warna

Genetik

Kebanyakan penderita mengalami buta warna sejak lahir dikarenakan faktor genetik yang berikatan dengan kromosom X. Jika seorang ayah menderita buta warna, ia tidak akan mewarisi buta warna pada anaknya, kecuali pasangannya mempunyai gen buta warna. Hal ini terjadi karena wanita lebih berperan untuk menjadi pembawa gen (carrier) yang akan mewarisi buta warna pada anaknya.

Buta warna karena faktor genetik lebih sering terjadi pada pria dibanding wanita, walau kadang kondisi tersebut bisa melewati satu generasi. Anak perempuan dipastikan bisa menderita buta warna jika kedua orangtuanya merupakan pembawa gen buta warna.

Penyakit

Penyakit-penyakit tertentu juga bisa menyebabkan terjadinya buta warna. Seperti Parkinson, Alzheimer, glaukoma, leukemia, diabetes, pecandu alkohol kronis, degenerasi makula dan anemia sel sabit.

Usia.

Faktor usia bisa menyebabkan kemampuan seseorang dalam membedakan warna perlahan akan berkurang. Hal ini terbilang alami karena terjadi akibat proses penuaan.

Bahan Kimia

Buta warna juga bisa terjadi karena paparan bahan kimia beracun seperti jika Anda terpapar bahan kimia di tempat kerja Anda, misalnya bahan kimia karbon disulfida dan pupuk.

Efek Samping Pengobatan

Pengobatan tertentu juga bisa menyebabkan buta warna, seperti digoxin, phenytoin, klorokuin, dan sildenafil. Jika buta warna ini disebabkan oleh pengobatan, biasanya buta warna akan mereda dan penglihatan menjadi normal jika berhenti konsumsi obat tersebut.

Diagnosis Buta Warna

Buta warna bisa diketahui dengan menjalani tes-tes berikut ini:

Tes Ishihara

Tes ini adalah pemeriksaan yang paling umum dilakukan untuk memeriksa buta warna. Namun tes ini hanya dapat mendeteksi buta warna merah-hijau. Pada tes ishihara ini menggunakan lingkaran yang berisi banyak titik yang memiliki warna dan ukuran yang berbeda. Beberapa titik akan membuat bentuk angka tertentu.

Tes Warna Cambridge

Sama seperti tes ishihara, namun tes ini menggunakan layar komputer. Pemeriksaan akan dilakukan dengan cara pasien diminta untuk mengidentifikasi huruf C yang memiliki warna berbeda dengan warna yang ada di sekitarnya.

Tes Penyusunan

Pada tes ini, pasien diminta untuk menyusun suatu objek berdasar gradasi warna yang berbeda. Misalnya pasien akan diminta untuk menyusun balok mulai dari gradasi warna biru tua-biru-biru muda.

Anomaloscope

Tes ini menggunakan alat mirip mikroskop, dan pasien akan diminta melihat lingkaran yang dibagi dua warna, setengah kuning terang, setengahnya lagi warna merah dan hijau. Kemudian pasien akan diminta menekan tombol di alat tersebut sampai seluruh warna di lingkaran berubah menjadi sama. Namun tes ini juga hanya bisa mendeteksi buta warna merah-hijau saja.

Tes Lentera Farnsworth

Tes ini sering digunakan militer Amerika Serikat untuk mendeteksi apakah calon tentaranya mengalami buta warna ringan ataukah berat.

Tes Farnsworth-Munsell

Tes ini menggunakan banyak lingkaran dengan gradasi warna yang sama seperti tes penyusunan. Tes ini digunakan untuk memeriksa dapatkah pasien membedakan perubahan warna yang sangat tipis perbedaannya.

Lakukan tes-tes buta warna tersebut untuk mendeteksi apakah Anda memiliki gejala buta warna.